Mengapa susah sekali melihat bahwa binatang binatang ternak itu
adalah semacam LAST HOPE. Harapan terakhir. Tentu saja para penduduk desa di sekitar Merapi itu mengetahui betapa bahayanya memberi makan ternak ternak mereka itu. Tapi disitulah mereka menaruh harapan terakhir mereka tentang hidup dan penghidupan.
Tentu saja sebagai gadis ASLI KOTA BESAR bukan saya hendak
mengatakan berarti saya lebih paham kehidupan orang desa. Tapi saya
rasa kita semua tahu arti kata pengharapan. Terutama di kala semua
kepastian tidak ada. Semua hal bisa menjadi sebuah janji yang entah
kapan datangnya. Bahwa seseorang mengatakan ternak ternak itu akan
diganti. Tentu saja mereka tahu itu.
Pernah satu masa sebetulnya di waktu kanak kanak saya membaca sebuah kisah tentang "Gadis bisu dan sapinya", karya Rabindranath Tagore. Gadis bisu itu hanya berkawan dengan sapinya. Dunia sehari hari yang melingkupinya digambarkan dengan baik oleh Tagore hanyalah kesunyian yang lain dan mengasingkan bagi si gadis bisu. Di dunia yang sebatang kara hanya sapi itulah sahabat dan harapan terakhirnya adanya hidup.
Membaca berita -berita tentang penduduk yang masih berusaha memberi makan ternaknya saya seperti melihat lagi kisah kanak kanak itu.
Mungkin agak susah dimengerti oleh kita yang tinggal di dunia maya, berpacu dengan banyak pilihan, alasan mereka kembali untuk ternak ternak mereka.
Entah kenapa saya merasa para orang desa yang kembali untuk melihat dan memberi makan ternaknya itu seperti terlempar ke dunia yang mendadak terasing. Dunia yang menjanjikan adanya ganti buat pengharapan mereka.
Dalam logika yang sangat sederhana saya rasa seharusnya kita bisa melihat ketika kantong pengharapan terakhir itu hilang hidup bisa menjadi sangat tidak bermakna. Seperti gadis bisu dalam cerita masa kanak kanak tadi yang kehilangan sapi sahabatnya.
Dalam ternak ternak itu tersimpan cerita tentang nasib anak yang akan sekolah, hajatan yang terdekat harus dilangsungkan. susu yang bisa dijual.
Itu juga sebabnya ketika susu susu dari uni eropa datang ke India, dengan harga murah yang dihancurkan bukan hanya sebuah ekonomi yang berputar, tapi keseluruhan roda ekonomi yang menunjang begitu banyak orang yang bergantung pada satu , dua ekor sapi mereka, koperasi-koperasi kecil dan roda ekonomi nya.....dan seterusnya....
Didalamnya tentu saja ada hitungan uang... tapi itu bukan sekedar...didalamnya ada kepala yang bukan sekedar angka...dalam putaran statistik yang membosankan...
Bukan sekedar agregat ...bukan sekedar...angka..sebagaimana layaknya hitung laba yang sudah dibayangkan para pedagang...dan perantaranya...
Sebuah keterasingan lain dimata para pengungsi yang peternakitu...yang kini berkumpul di barak barak ...
Bahayanya gunung itu masih berlaku, tetapi mungkin kita bisa memikirkan satu pola yang tidak mengantarkan dunia lain yang berdasarkan kepala kita ketika berhadapan dengan mereka yang menunggu pengharapan hidup pada ternak ternak itu...di tengah situasi yang tanpa ujung...
AMP
catatan:
1. Setiap tahun subsidi Uni Eropa kepada sektor pertanian mereka kurang lebih 300 milyar dollar. Kebijakan ini disebut sebagai CAP, atau common agriculture policy. Untuk sapi-sapi subsidi itu menurut data deplu Indonesia sebesar 2 dollar per hari. Subsidi menghancurkan koperasi koperasi susu di India, dimana para peternak menggantungkan hidup dari satu dua ekor sapi mereka.
2. Undang -undang peternakan mengadopsi ketentuan perdagangan dunia. Ini menyebabkan banyak ternak masuk begitu saja ke Indonesia, tanpa ada control. Dua tahun lalu saya berbincang dengan seorang peternak di Kulon Progo yang khawatir dengan masuknya ternak dari Australia dan Brazil ke pasar lokal. Bukan hanya dari sisi konsumen membahayakan tetapi juga mematikan pasar ternak lokal. Tahun ini beberapa kelompok organisasi petani dan global justice memenangkan judicial review undang undang yang memproteksi kembali para peternak nasional.
3. Subsidi ini jika dibandingkan tingkat pengharapan hidup penduduk negara berkembang yang hidup dibawah satu dollar perhari sangat mengenaskan. Hitungan bank dunia memakai metode PPP (purchasing power parity), jika kita menghitungnya dengan metode lain termasuk bayaran sosial nilai penghancuran dan perbandingan penduduk kaya dan penduduk miskin bisa menjadi lebih besar. Seorang ekonom bernama Sanjay Reddy dari Columbia University menjelaskan ini dengan sangat baik. bahan bahan mengenai perdebatan PPP, bisa diunduh di website prof Reddy, www.socialanalysis.org. Bahkan dengan penjelasan yang baik dari profesor yang baik itu, mengenai hitungan sesat bank dunia satu dollar itu, saya memerlukan waktu berbulan bulan untuk membaca ulang termasuk berkonsultasi degan beberapa kawan. Untuk ini saya harus
berterimakasih untuk Lutfiyah Hanim yang dengan sedikit tidak sabar
menjelaskannya kembali kepada saya yang gap mat. Gagap Matematik.
4. Ketika kata melindungi yang lokal, ini tidak sama dengan saya xenophobia atau anti perdagangan, tapi saya juga tidak naif bagaimana negara lain melihat potensi pasar penduduk Indonesia dengan 243 juta penduduk sehingga diserbulah dengan segala tawaran mulai dari toilet ( tawaran Obama untuk gempa salah satunya adalah portable toilet)dan obat patent yang mahal.
Saya kok lupa judul cerita itu. Tagore adalah salah satu penulis sosial yang sangat baik dan salah satu kumpulan puisinya yang juga terkenal Gitanjali , bertemakan pikiran pikiran yang berani, "Where The Mind is Without Fear and Head is Held High" (Fearless Mind).
5. Entah kenapa setiap kali hendak menulis sesuatu yang sederhana ini selalu berakhir dengan penjelasan yang dimata awam TIDAK SEDERHANA. Mungkin bertahun tahun menengarai isu perdagangan bebas membuat saya susah melepaskan partikel partikel ketidak adilan ekonomi ini. Maafkan. Hatur Nuwun. Horas.

No comments:
Post a Comment