Quotes
"..kita dibilang tidak punya humor, tetapi periode sejarah dewasa ini memang sama sekali tidak lucu! Tak ada apa pun yang layak membuat tertawa.." BHP mengutip percakapan BOURDIEU dan GRASS yang menawan
Sunday, January 9, 2011
Maemunah Penuh Rasa Sayang
JAKARTA, KOMPAS.com — Maemunah Thamrin (82) dipandang sebagai sosok ibu yang sangat memperlihatkan sifat keibuannya. Istri novelis Pramoedya Ananta Toer ini selalu memberi kasih sayang secara penuh.
"Dia sangat menyayangi total. Enggak cuma bagi anak-anak, tapi juga buat orang lain," kata anggota Komunitas Taring Babi, Bob, Minggu (9/1/2011) di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Komunitas band musik punk tersebut beranggotakan 9 orang yang didukung sepenuhnya oleh Pramoedya saat masih hidup. Pram pernah mengatakan suatu hal kepada para anggota Taring Babi, "Pemuda jangan jadi ternak. Kalian harus kreatif."
Bob menuturkan, Maemunah sering bercanda dan mencurahkan hatinya mengenai suka duka kehidupan masa mudanya. Kisahnya cenderung memotivasi orang agar bisa bertahan hidup di tengah impitan sosial politik.
Salah satu kisah curhatnya adalah ketika Pak Pram ditangkap, dia harus membimbing anak-anaknya. "Ibu terus berusaha mengasuh anak-anak. Padahal, banyak orang yang menuding kelima anaknya sebagai orang PKI. Bahkan, ibu sempat jualan kue dan es di rumah pas Pak Pram ditangkap dan dipenjara sekitar awal tahun 1970 -an," ujar pria bertindik ini.
Bob menilai, Maemunah sebagai seorang wanita yang kuat dan dipanjangkan umur oleh Tuhan. Kepada salah satu anggota keluarganya, kata dia, dokter yang merawat pernah bilang kalau ada pasien keluar ruang ICU, harusnya dalam 1-2 hari nyawanya tidak tertolong. "Tapi, ibu ternyata masih diberikan nikmat sehat sampai beberapa bulan," kata lelaki kelahiran Semarang itu.
Walau tidak rutin, Maemunah bersama keluarga sering berkunjung ke rumah Komunitas Taring Babi di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Beliau mampir dan makan bareng di sana apabila ada rencana silaturahmi ke rumah Pak Pram di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
"Beliau memakan hidangan yang dimasak oleh rekan-rekan komunitas," ujar Bob yang terakhir kali bersua dengan Maemunah saat masih dirawat di RS MH Thamrin.
Saat Maemunah berbicara, Bob dan kawan-kawannya juga menilai bahasa yang dikatakannya mudah dicerna dan sangat mengena. "Perangainya adem dan mengayomi, tapi tidak terkesan menggurui. Dia mengingatkan kita untuk selalu sabar dan tidak kenal putus asa dalam menjalani hidup," kata Bob.
Penulis: Adi Dwijayadi | Editor: A. Wisnubrata
Labels:
Amalia Pulungan,
Woman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

suatu hari sebelum 27 Juli 1996, saya, Beta Ramses dan Oka Mahendra dari KDP (Kabar dari Pijar. Penerbitan surat kabar bawah tanah pada masa itu) berkunjung ke Bung Pram untuk keperluan wawancara. Waktu itu Ibu Maemunah menemani Bung Pram di ruang tamu, setelah wawancara dimulai, beliau pamit berpindah ke ruang yang lain. Antara Bung Pram dan Ibu Maemunah terlihat betul keserasian dan keselarasan. Sempat terbersit di kepala saya, Orde Baru tidak pernah mau memahami Pram, namun seorang perempuan bernama Maemunah itulah yang paling bisa memahami Pram sebagai ideolog, sastrawan, pejuang, seniman, pemikir bahkan seorang suami. Waktu itu saya masih SMA dan pertemuan itu membekas di dalam hidup saya...karena kalimat Bung Pram, yang bernada tinggi sambil menghisap Djarum Supernya menuding wajah saya "Jangan belajar kepada generasi saya, generasi yang kalah! Belajarlah pada dirimu sendiri, sebagai kaum muda! Lahirkanlah sejarah kalian! Jangan bergantung kepada yang tua!". Kalimat bernada tinggi dari sosok sastrawan yang saya kagumi atas karya-karyanya itu akibat dari satu pertanyaan saya yang naif, "Bung, apa saran Bung Pram untuk kami, generasi muda ini?" hahahahhaa kenangan yang indah...
ReplyDelete